BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Umat Islam mengalami kemajuan dalam zaman klasik ( 650-1250 ). Dalam sejarah semenjak kemajuan ini terjadi pada sekitar tahun 650-1000 M. Pada masa ini sudah hidup ulama’ besar yang tidak sedikit jumlahnya baik di bidang tafsir, hadist, fiqih dll
Berdasarkan bukti histories ini menggambarkan bahwa periwayatan dan perkembangan hadist sejalan seiring dengan perkembangan lainnya menatap persektif keilmuan hadits bergambar terang bahwa anutan hadist ternyata memiliki andil besar dalam mendorong kemajuan umat islam. Sebab hadist nabi sebagaimana Al Qur’an sudah memerintahkan orang-orang diberiman menuntut pengetahuan dengan demikian disiplin ilmu hadist justru menybabkan kemajuan umat islam.
Setiap hadist mengandung 2 cuilan yaitu teks ( Matn ) hadist itu sendiri dan matan transmisi atau isnadnya yang sebut nama-nama riwayat rowinya para prasejarah klasik maupun modern sependapat bahwa mula-mula hadist muncul tanpa sumbangan isnad pada masa sahabat bersahabat ( periode periwayatan hadits ) hingga lebih kurang pengantian kurun ke 11/ 7 M. Sekitar masa ini pulalah hhadist muncul secara besar-bemasukan ketiak ilmumpengetahuan formal yang tertulis mulai di rintis gres pada kurun 99 H- 101 H Umar bin Abdul Aziz memiliki wangsit untuk membukukan hadist dengan jalan memrintahkan tiruana ulama’ di seluruh dunia untuk menggumpulkan hadist-hadist Rasul yang berdasarkan anggapan mereka sama, pembukuan hadist pada periode ini dilakukan dengan cara mengemukakan riwayat-riwayat di sertai dengan sanadnya sehingga memungkinkan untuk mengetahui mutu hadist yang di riwayatkan baik shohih maupun dhoif dengan cara mereview sanadnya denag menolongan ilmu lain yang bermacam-macam.
Ilmu Rijalul Hadist merupaka salh satu cabang besar yang tumbuh dari hadist riwayah dan Diroyah dengan ilmu ini sanggup memmenolong kita untuk mengetahui keadaan para perowi yang mendapatkan hadist dari Rasulullah dengan keadaan rowi yang mendapatkan hadist dari sahabat bersahabat dan seterusnya. Denag mengetahui keadaan para perowi yang menjadi sanad, dan megampangkn kita menilai kualitas suatu hadist maka bias di simpulkan bahwa ilmu Rijalul Hadis ialah separuh dari ilmu hadist.
- Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Rijalul Hadist?
2. Apa Pengertian sahabat bersahabat dan tobaqohnya?
3. Siapa Sahabat- sahabat bersahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Rijalul Hadist
Ilmu Rijalul Hadist ialah suatu ilmu yang mengulas perihal keadaan-keadaan perowi, perjalanan hidup mereka baik dari kalangan sahabat dekat, tabi’in, dan tabi’in. Dalam definisi lain sanggup di simpukan bahwa ilmu Rijalul Hadist ialah sejarah perowi-perowi hadist dan mazhab-mazhab yang mereka pegang yang dengan mempelajari sejarahnya sanggup di terima atau di tolaknya riwayat mereka.
B. Sahabat dan Tobaqohnya
Perkataan Sahabat berdasarkan bahasa jama’ dari Sohib. Sohib itu di artikan yang empunaya dan yang menyertai, mitra ataunkawan yang selalu berada gotong royong kita dan kaliamt sohib ini di jama’kan dengan memanjangakn ha. Sohibu, ashabdan sahabah denga tiadk
Sahabat berdasarkan jumhur hebat hadist ialah orang yang bertemu Nabi dengan keadaan islam, dimasa Nabi masih hidup.
Abu Mudhafar beropini orang yang meriwayatkan hadist dari Rasulullah satu hadist satu kalimat yang menyaksikan kehidupan Rasulullah.
Menurut Usman bin Shahi yang di namakan sahabat bersahabat ialah orang yang menemui masa Nabi, walaupun dia tidak sanggup melihat nabi dan dia memeluk islam semasa Nabi masih hidup.
Sedangkan pendapat yang paling shohih yang sudah di temukan Al Hafidz ialah pendapat Imam Bukhori dan Hanbal yaitu orang yang berjumpa Rosul dalam keadaa dia diberiman dan meninggal dalam islam, baik usang dia bergaul dengan Rasul atau tidak, baik dia turut berperang bersama Rasul atau tidak, baik meriwayatkan hadist Rasul atau tidak, sanggup melihat Rasul tapi tidak duduk semajlis dengan Rasul atau dia tidak sanggup melihat Rasul lantaran buta.
Sedang Thobaqoh ialah sekumpulan Rowi, hamper seusia umurnya dan berserikat dalam mendapatkan pelajaran dari seorang guru. Ulama’ yang melihat kemuliaan perteman dekatan dengan nabi ibarat Ibnu Hiban dll menyebabkan tiruana sahabat bersahabat dalam satu thobaqoh, sedangkan ulama’ lain melihat dari segi-segi lain maka menetapka sahabat bersahabat dalam beberapa thobaqoh. Adapun faedah mngetahui thobaqoh ( orang-orang yang semasa da seperguruan )
Dalam thobaqohnya Ibnu Sa’ad spesialuntuk mengelompokkan sahabat bersahabat dalam 5 thobaqoh setelah diperinci jumlahnya meningkat menjadi 12 thobaqoh berdasarkan urutan lebih doloe memluk islam, hijrah dan engikuti peperangan.
1. Mereka yang lebih doloe masuk islam yaitu orang-orang yang diberiman di Mekkah ibarat halnya 10 sahabat bersahabat yang mendapatkan kabar bangga akan masuk nirwana Khotijah dan Hilal
2. Sahabat yang masuk islam, sebelum orang-orang Quraish bermusywaroh di Darrul Nadwah untuk menyelakakan Nabi pada masa itu ada sebagian Sahabat yang mengangkat Bai’at ibarat Umar bin Khotob
3. Para shjabat yang hijrah ke Hasyabah pada tahun ke-5 setelah Rosul di utus yaitu sebelas pria dan empat perempuan diantara mereka ialah Usamn bin Affan, Zubair bin Awwam, Ja’far bin Abi Tholib, Ruqoyyah, Sahlan binti Sahl, Istri Abu hudzaifah sejajar denag kelompok thobaqoh ini ialah sahabat bersahabat yang melaksanakan hijrah ke Hasabyah, jumllahnya 83 orang, diantranya Ja’far bin Abi Tholib dan Istrinya Asma binti Umais, Ubaidillah bin Jahsy dan istrinya Ummu Habibah Abdullah saudara Ubaidullah, Abu Musa dan Ibnu Mas’ud,
4. Pengikut perjanjian Aqobah pertama, mereka ialah 12 sahabat bersahabat Ansor diantaranya Jabi bin Abdullahm, Uqbah bin Amir
5. Pengikut pejanjianh Aqobah ke-2, mereka terdiri dari 70 sahabat bersahabat Anshor di sertai 2 orang wanita, diantara mereka ternasuk Al Barabin Ma’rur, Sa’ad bin Ubadah dan Ka’ab bin Malik
6. Para sahabat bersahabat muhajirin yang hingga ke Madinah ketiak masih berada di Quba menjelang memasuki Madinah
7. Para pengikut perang Badar
8. Para Sahabat yang hijrah di antara perang Badar dan Hudaibiyah
9. Para sahabat bersahabat yang melakuakan Bai’at di bawah pohon hudaibiyah ( Bai’ah Ridwan )
10. Para sahabat bersahabat yang berhijrah sebelum menaklukkan mekkah dan setelah periatiwa Hudaibiyah ialah Kholid bin Walid
11. Para sahabat bersahabat mereka yang masuk islam setelah Mekkah terkalahkan ibarat Abu Sufyan dan Hakim bin Hazam
12. Anak-anak yang melihat Nabi SAW setelah Mekkah terkalahkan dan Haji Wada’ ibarat Sa’id bin Yazid dan Abdullah bin Sa’labah
Tabi’in dan thobaqohnya, Tabi’I pada asalnya ialah pengikut, para ulama’ kemudian mempersembahkan batasan bahwa tabi’in ialah orang-orang yang pernah bertemu denagn sahabat bersahabat dan diberiman kepada Nabi SAW serta meninggal dunia dalam keadaan islam. Tentang hal ini Ibnu Hibbah dalam bukunya thobaqoh tabi’in mensyaratkan adanay penghafalan dari hadist jadi bukan spesialuntuk bertemu saja . Adapun kegunaan mengetahui tabi’in ialah untuk mengetahui hadist muttasil dan mursal, lantaran suatu yang di sebut di dalamnya nama para sahabat bersahabat di pandang muttasil dan jikalau tidak di sebut di namai mursal Al Qur’an ini memdiberiakn kesaksian tentng keutamaan thobaqoh ini dalan Surat At Taubah, ayat 100 yang artinya Orang-orang yang terlampau lagi yang pertama masuk islam di antara orang-orang muhajirin dan Anshor dan orang-orang mengikuti mereka denag baik, Allah rela kepada mereka dan merekapun rela kepda Allah di kawasan lain Rasulullah bersabda Berbahagialah orang yang melihat orang yang melihatku.
Menurut Al Hakim masa Tabi’in berakhir setelah orang yang bertemu sahabat bersahabat terakhir meninggal dunia. Kaprikornus tabi’in berakhir ialah orang yng bertemu dengan Abu Thufail di Mekkah Al Sa’ib di Madinah, Abu Ummah di Syam, Ubaidillah bin Abi Aufa di Kuffah dan Anas bin Malik di Basraoh, Abdullah bin Harist al Zabidi di Mesir. Sedangkan tabi’in yang mula-mula wafat ialah Abu Zaid Ma’mar bin Zaid pada tanggal; 30 H di Qurssan dan tabi’in yang terakhir meninggal ialah Kholaf bin Kholifah, wafat pada tahun 180 H.
THABAQAT ATTABAUT TABI’IN, Attbaut Tabi’in ( pengikut tabi’in ) itu orang yang bertemu dengan tabi’in, diberiman kepada Allah dan meninggal duinia dalam keadaan memeluk agama islam para ulama’ beranggapan bahwa Imam Malik bin Anas dan Imam Syafi’i termasuk kedalam thobaqoh ini. Adapun Imam Abu Hanifah berdasarkan pendapat yang lebih berpengaruh juga termasuk Tabi’in, dasarnya I pernah bertemu dengan Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, Abullah bin Jaza’ al- zubaidi, Abdullah bin Unais, Aisyah bin Ajrat dan meriwyatkan dari mereka sedangkan Imam Ahmad bin Hambal di anggap termasuk thobaqoh setelah Atba’ul tabi’in alasannya ialah dia wafat pada tahun 241 H sedangakn periode Atba’ul Tabi’n berakhir pada tahun 220 H.
Kitab-kitab Thobaqoh, Kitab-kitab Thobaqoru’r- Ruwah yang di tulis sebagian ulama’ sebanyak 20 lebih sedikit. Diantara kitab-kitab termashur ialah
1. At-thobaqotu’l –Kubro, karya Muhammad bin Sa’ab bin Mani’ Al Hafidh Katib Al Wahidi (168-230 H)
2. Thobaqatu’r- Ruwah, karya Al Hafidh Abu ‘Amr Kalifah bin Khyyath Asy-Syaibani (240 H).
3. Thobaqatu’t – Tabi’in, karya Imam Muslim bin Hajjaj al Qusyairy ( 204-261 H )
4. Thobaqatu’l – Muhanddisin war Ruwah, karya Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad Al Ashbihany (336-430 H )
5. Thobaqatu’l –Hufazh, oleh Al Hafidh Samsudin Adz-Dzahaby ( 673-748 H)
6. Thobaqatu’l –Hufazh, oleh Jamaluddin As Syuyuti (849-911 H )
C. Sahabat-Sahabat Yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadist ( Orang-Orang Yang Riwayatnya Lebih Dari 1000 Hadist)
Sahabat-teman bersahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist, di antaranya :
1. Abu Hurairoh, dia meriwayatkan 5374 hadist
2. Abdullah bin Umar bin Khotob, dia meriwayatkan 2603 hadist
3. Anas bin Malik, dia meriwayatkan 2286 hadist
4. Ummul Mu’minin ‘Aisyah, dia meriwayatkan 2210 haditst
5. Abdullah bin Abbas, dia meriwayatkan 1660 hadist
6. Jabir bin Abdullah, dia meriwayatkan 1540 hadits
7. Abu Sa’in Al-Khudri, dia meriwayatkan 1120 hadist
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Ilmu Rijalul Hadist ialah suatu cabang dari ilmu-ilmu hadist , tidakalh tepat ilmu seseorang dalam bidang hadist apabila dia tidak mengetahui atau mendalami ilmu Rijalul Hadist dan dari ilmu inilah berkembang ilmu jar wata’dil dalam perjuangan penelitian sanad suatu hadist
Dalam perjuangan mempelajari dan mendalami ilmu mustolah l hadist dihentikan mengesampingkan ilmu Rijalnya karemna melengkapi diri denagn ilmu-ilmu ini syarat mutlak dalm perjuangan membangun laboratorium tarjih
DAFTAR PUSTAKA
Rohman, Fathur. 1974. Ikhtisar Mushthalahul Hadits. Bandung : PT. ALMA’ARIF.
0 Komentar untuk "Rijalul Hadist"