BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pesatnya perkembangan teknologi televisi membuat masyarakat semakin dimanjakan dengan tayangan-tayangan yang bersifat hiburan maupun diberita yang terang dan akurat. Dahulu kala, pada ketika media televisi ditemukan pertama kali oleh John Logie Baird pada tahun 1923, masyarakat merasa sangat senang sekali. Mereka bisa menyaksikan gambar-gambar orisinil yang bisa bergerak dan berbicara layaknya kehidupan nyata. Pesawat televisi pertama kali spesialuntuk bisa menampilkan warna hitam putih. Tiga tahun kemudian yakni tahun 1928, John berhasil membuat sistem TV warna pertama yang terdiri dari warna merah, biru dan hijau. Tahun silih berganti dan orang pun terus menghasilkan karya terbaiknya demi pemenuhan kehidupan yang lengkap dan praktis. Tahun 1968, Sony Corporation di Jepang mengembangkan system warna trinitron yang kemudian disebut dengan televisi CRT (Sathode Ray Tube), yang kemudian disusul dengan bentuk televisi LCD dan plasma yang kini ramai diminati masyarakat.
Disamping perkembangan pada Medianya (TV), acara-acara yang ada di Media ini pun ikut berkembang. Dahulu acaranya ialah sebatas diberita dan pementasan drama, kini kita bisa menemukan banyak sekali macam kegiatan menyerupai film, diberita, petualangan, talk show, dan lain-lainnya.
Bentuk media audio visual selain TV ialah VCD (Vidoe Compact Disk). Media ini bisa menampung muatan audio visual sepanjang 74 menit yang kualitasnya setara dengan VHS video dan suaranya setara dengan kualitas CD audio.
Adanya dua Media teknologi ini secara tidak pribadi juga memiliki imbas dalam dunia pendidikan antara lain bisa digunakan sebagai media pembelajaran yang mengasyikkan. melaluiataubersamaini dua Media ini seorang guru bisa memberikan bentuk orisinil materi pembelajaran dengan gamblang dan jelas.
Guru dan anakdidik pun semakin mudah untuk memahami segala pelajaran alasannya ialah pribadi melihat bentuk aslinya. Ironisnya kegampangan tersebut ternyata masih dinikmati oleh orang yang berduit dan faham teknologi saja. Guru-guru yang ada di desa terpencil tidak akan bisa memakai Media itu sebebas mungkin untuk proses pembelajaran, selain alasannya ialah mereka tidak bisa membelinya, merekapun kurang begitu faham bagaimana mengaplikasikannya di dalam dunia pembelajaran. Untuk itu sekolah yang masih belum maju diharapakn oleh pemerintah untuk mengembangkan teknologi dalam pembelajaran sebaik mungkin demi tercapainya pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas sanggup diambil suatu rumusan problem yang antara lain sebagai diberikut:
1. Bagaimana TV dan VCD digunakan sebagai media pembelajaran yang mengasyikkan?
2. Apa kelebihan dan kelemahan TV dan VCD sebagai media pembelajaran?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini tidak lain ialah untuk:
1. Mendeskripsikan OHP sebagai media pembelajaran
2. Menjelaskan kelebihan dan kelemahan OHP dalam penerapannya sebagai media pembelajaran.
1. 4. Manfaat Penulisan
melaluiataubersamaini adanya penulisan makalah ini diperlukan supaya mahasiswa yang sebagai calon guru bisa untuk memahami dan kemudian menggunakannya sebagai media pembelajaran yang asyik dan sangat senang bagi diri sendiri dan anakdidiknya yang nantinya bisa terwujud pembelajaran aktif dan inovatif.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Televisi
Omar Hamalik dalam tulisannya mendefinisikan televisi sebagai perlengkapan elektronik yang intinya sama dengan gambar hidup yang mencakup gambar dan suara. Dari definisi tersebut televisi bersama-sama ialah sama dengan film, yakni sanggup didengar dan dilihat. Media ini berperan sebagai gambar hidup dan juga sebagai radio yang sanggup dilihat dan didengar secara bersamaan. Televisi juga sanggup mempersembahkan kejadian-kejadian yang bersama-sama pada ketika suatu tragedi terjadi dengan disertai komentar penyiarnya. Kedua aspek tersebut secara simultan sanggup didengar dan dilihat oleh para pemirsa alasannya ialah tragedi tersebut pribadi disiarkan dari stasiun pemancar TV tertentu.
Televisi sebagai media pengajaran mengandung beberapa laba antara lain:
1. Bersifat pribadi dan nyata, serta sanggup menyajikan tragedi yang sebenarnya.
2. Memperluas tinjauan kelas, melintasi banyak sekali kawasan atau banyak sekali negara.
3. Dapat membuat kembali tragedi masa lampau.
4. Dapat mempertunjukkan banyak hal dan banyak segi yang berguaka ragam.
5. Banyak mempergunakan sumber-sumber masyarakat.
6. Menarik minat anak.
7. Dapat melatih guru, baik dalam pre-servise maupun dalam inservice training.
8. Masyarakat diajak berpartisipasi dalam rangka meningkatkan perhatian terhadap sekolah.
Adapun kelemahan-kelemahan TV sebagai media pengajaran, sama halnya yang terjadi pada film, yakni TV terlalu menekankan pentingnya materi ketimbang proses pengembangan materi tersebut. Kekurangan lainnya yang begitu mencolok ialah sifat komunikasinya spesialuntuk satu arah (one way communication).
Apabila pembelajaran melalui televisi dilakukan dengan siaran langsung, maka yang niscaya akan terjadi ialah kesusahan terintegrasikannya jadwal siaran pembelajaran di televisi dengan jadwal pembelajaran di sekolah. Dari sifatnya yang sentralistik ini, guru di sekolah susah untuk mengontrol proses penyampaian pesannya.
Dalam penerapannya televisi sangatlah mudah untuk digunakan akan tetapi dalam proses pembelajaran tidakboleh asal pakai saja. Diperlukan adanya persiapan terlebih lampau sebelum proses pemebelajaran berlangsung. Hal ini dikarenakan tidak tiruananya anak didik faham akan perbendaharaan kata-kata yang digunakan dalam materi yang berlangsung di televisi. Kemudian sehabis selesai diadakan kegiatan lanjutan supaya tiruananya bisa berjalan dengan efektif. melaluiataubersamaini adanya follow up sehabis melihat TV, anak didik akan lebih faham akan pelajaran tersebut.
Pada tahun 2004, Menteri Pendidikan Abdul Malik Fadjar meresmikan adanya TV-E (Televisi Edukasi), sebuah stasiun televisi di Indonesia yang khusus ditujukan untuk membuatkan informasi di bidang pendidikan dan berfungsi sebagai media pembelajaran masyrakat. Televisi inipun disebut sebagai Media Pendidikan Jarak Jauh. Dalam sambutannya ia mengatakan: “sebagai bangsa yang ingin maju, maka kemnajuan teknologi perlu dimanfaatkan. Hanya saja itu dilakukan dengan kadar kearifan dan sopan santun yang tinggi, khususnya dilihat dari segi pendidikan”. Pernyataan ia sangat terang untuk mengajak seluruh civitas pendiddikan memakai teknologi sebagai bumbu embel-embel dalam proses pengajaran. Disamping supaya tidak ketinggalan zaman, pesan ini juga mengandung bahwa teknologi sangatlah penting dalam dunia pendidikan.
Televisi edukasi ini dirancang untuk mendidik dan mencerdaskan masyarakat dengan kemasan kegiatan yang mengasyikkan dan sangat bahagia. Karena daya jangkaun televisi bisa sangat luas, keberhasilan memanfaatkan media pembelajaran itu akan mempercepat pembangunan masyarakat berguru yang cerdas.
Program TV-E ini disiarkan melalui satelit dan sanggup diakses dengan memakai parabola. Siaran dilaksanakan selama empat jam dari pukul 07.00 hingga 11.00 di frekuensi 3782-3790 MHz. Sedangkan komposisi programnya mencakup materi pelajaran pendidikan formal 30%, pendidikan nonformal 30%, pendidikan informal 20%, serta informasi kebijakan dan kegiatan berupa diberita atau feature 20%. Adanya siaran ini sangatlah memmenolong guru dan masyarakat untuk melaksanakan pembelajaran secara individu dan kelompok yang nantinya tidak ada pembatasan ruang gerak proses pendidikan itu sendiri.
2.2. Video Compact Disk (VCD)
Video yang salah satu bentuknya ialah Video Disc masih termasuk media pembelajaran audio visual. Yudhi Munadi dalam bukunya Media Pembelajaran mendefinisikan video ialah teknologi pemrosesan sinyal elektronik mencakup gambar gerak dan suara.
Karakteristik video banyak kemiripannya dengan media film, di antaranya dari segi kelebihan-kelebihannya yaitu:
1. Mengatasi keterbatasan jarak dan waktu
2. Video sanggup diulangi bila perlu untuk menambah kejelasan
3. Pesan yang disampaikan cepat dan mudah diingat
4. Mengembangkan pikiran dan pendapat para siswa
5. Mengembangkan imajinasi penerima didik
6. Memperjelas hal-hal yang aneh dan mempersembahkan citra yang lebih realistic
7. Sangat berpengaruh memengaruhi emosi seseorang
8. Sangat baik menunjukan suatu proses dan keterampilan
9. Semua penerima baik yang pintar maupun yang terbelakang bisa berguru dari video
10. Menumbuhkan minat dan motivasi belajar
11. melaluiataubersamaini video penampilan siswa sanggup segera dilihat kembali untuk dievaluasi.
Namun selain kelebihan-kelebihan diatas, ia-pun tidak lepas dari kelemahannya, yakni media ini terlalu menekankan pentingnya materi ketimbang proses pengembangan materi tersebut. Dilihat dari ketersediaannya, masih sedikit sekali video di pasar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran di sekolah. Di sisi lain, produksi video sendiri membutuhkan waktu dan biaya yang cukup banyak.
2.2.1. Langkah-langkah Penyajian Video
Pemanfaatan video dalam proses pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal diberikut;
1. Program video harus dipilih supaya sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Guru harus mengenal kegiatan video yang tersedia dan terlebih lampau Melihatnya untuk mengetahui keuntungannya bagi pelajaran.
3. Sesudah kegiatan video dipertunjukkan, perlu diadakan diskusi untuk melatih siswa mencari pemecahan masalah, membuat dan menjawaban pertanyaan.
4. Program video bisa diputar dua kali atau lebih, untuk memperhatikan aspek- aspek tertentu.
Agar siswa tidak memandang kegiatan video sebagai media hiburan belaka, sebelumnya perlu ditugaskan untuk memperhatikan bagian-bagian tertentu.Sesudah itu sanggup dites, berapa banyakkah yang sanggup mereka tangkap dari kegiatan video itu.
VCD (Video Compact Disk) ialah salah satu bentuk dari Video Disc, yaitu masukana menyimpan dan mencari gambar. Video disc diperkanalkan di pasar tidak usang sehabis perekaman pita video menjadi populer. Video disc pertama dipasarkan oleh Philips dari Belanda pada tahun 1972, dan diberikutnya oleh Thomson-CSF di Prancis, JVC di Jepang, dan RCA di Amerika Serikat. Sistem yang digunakan ialah capacitance system, yakni sistem pemindahan (scan) informasi gambar dan bunyi dengan memakai tracking arm dan stylus, sebagaimana layaknya pada turn table audio (Arief S. Sadiman, 1990:296).
Kemudian mengalami perubahan menjadi sistem optik. Produsen yang pertama kali memakai optical tracking signal system yang menghubungkan ke sinyal video ialah JVC dari Jepang, produk ini kemudian dikenal dengan sebutan laser disc (LD). Teknologi LD ini tidak sama dengan teknologi pita video dalam arti informasinya disimpan sebagai spiral lubang-lubang mikro yang sanggup dibaca secara optic; galurnya diatur rapat-rapat di permukaan cakram (disc) datar, bukan dalam bentuk magnetic di permukaan pita; dan dibaca memakai laser, bukan oleh head magnetic. Perbedaan utama ialah player pita video juga sekaligus recorder. Kita sanggup merekam di pita video, sedangkan video disc spesialuntuk tersedia dalam bentuk yang sudah direkam. melaluiataubersamaini alasan ini, video disc tidak terlalu terkenal ketika pertama kali diperkenalkan dan belum diterima konsumen dalam skala besar pada pertama tahun 1990-an.
Tidak usang sehabis itu, tepatnya pada tahun 1992, Philips mempromosikan video dalam tampilan gres yang disebut Video Compact Disc, yang kebanyakan orang mengenalnya dengan sebutan VCD. Video digital ini memanfaatkan format medium CD yang sebelumnya sudah dikenal luas dalam format audio CD. melaluiataubersamaini memasukkan informasi dan audio untuk memenuhi ruang 650 MB yang disediakan oleh medium CD ini, format VCD diperkenalkan untuk menjadi tandingan Laser Disc (LD), yang secara fisik bentuknya lebih besar dan lebih berat. Teknologi digital yang digunakan ialah teknologi MPEG-1 yang diprakarsai oleh Motion Picture Experts Group, sebuah tubuh internasional yang mengembangkan kompresi audio dan video. Teknologi MPEG-1 ini memanfaatkan metode kompresi data rate rendah dengan tujuan supaya file yang dihasilkannya sanggup efektif memenuhi ruang 650 MB yang disediakan medium CD.
melaluiataubersamaini memakai standar VCD ini, sebuah medium CD sanggup menampung muatan audio visual sepanjang 74 menit. Kualitas setara dengan VHS video, dan bunyi setara dengan kualitas CD Audio. Baik LD maupun VCD, bukanlah media penyimpan pada kamera, tetapi spesialuntuk untuk diputar pada play back-nya masing-masing.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dua Media teknologi audio visual ini sangatlah cocok digunakan untuk media pembelajaran. Adanya kelebihan-kelebihan yang sudah disebutkan di atas membuat proses pembelajaran berlangsung efektif dan efisien. Guru akan lebih mudah memberikan pelajaran, alasannya ialah Media Bantu tersebut dan siswa pun lebih cepat merangsang materi pelajaran, alasannya ialah mereka bisa melihat secara langsung. Manfaat ini sesuai dengan goresan pena di buku Quantum Learning yakni apabila anakdidik bisa melihat pribadi materi pelajarannya maka tingkat pemahamannya menjadi 60 %. Suatu keadaan yang sangat diinginkan tiruana pihak baik dari sekolah maupun masyarakat.
Penggunaan TV dan VCD sebagai media pembelajaran membutuhkan adanya rancangan yang jelas, guru harus terlebih lampau menyiapkan materi yang cocok untuk siswanya, dan kemudian sehabis proses pembelajaran selesai harus diadakan penilaian supaya siswa tidak spesialuntuk sekedar menonton saja tetapi betul-betul memahami apa kandungan pelajaran yang ada di dalamnya.
3.2 Saran
Pengembangan di sekolah-sekolah tertentu yang belum memiliki TV dan VCD agaknya harus digalakkan secara bersama-sama. Sekolah yang memiliki kedua media ini pastilah lebih mudah dalam melaksanakan proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Pengembangan ini diharapakan supaya tercapainya kemajuan masyarakat dan bangsa Indonesia itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar M. A, Media Pembelajaran, Jakarta, Rajpertamai Press, 2009.
Anderson, Ronald H, Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran,
Penj. Yusufhadi Miarso, dkk., Jakarta, Rajpertamai Press, 1987.
Damin, Sudarman, Media Komunikasi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara, 1994.
Munadhi, Yudhi, Media Pembelajaran (Sebuah Pendekatan Baru), Jakarta, Gaung Persada Press, 2008.
Nasution, Prof. Dr., Teknologi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara, 2008.
Rohani, Ahmad, Media Instruksional Edukatif, Jakarta, Rineka Cipta, 1994.
http://abdulhakimmuh.wordpress.com/2010/06/22/tv-vcd-sebagai-media-pembelajaran/
0 Komentar untuk "Tv Dan Vcd Sebagai Media Pembelajaran Bahasa Arab"