Histats

Layanan Bimbingan Konseling Sebagai Pembentukan Kepribadian Siswa

Oleh : Muhammad zainudin & Wahib Rodhi

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kepribadian dan tipe-tipe kepribadian. Telah sangat terperinci bahwa yang dimaksud dengan kepribadian yaitu suatu cirikhas yang menetap pada diri seseorang dalam aneka macam situasi dan dalam aneka macam kondisi, yang bisa membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lain. Dan terkena tipe-tipe kepribadian, ada individu-individu yang berteman dekat, sangat bahagia, ramah, banyak bicara, spontan dan sebagainya.

Bimbingan dan konseling harus memmenolong megampangkan siswa berbagi seluruh aspek kepribadiannya seoptimal mungkin, sehingga terwujud siswa yang tangguh menghadapi masa kini dan masa menhadir.
Layanan bimbingan dan konseling ialah penggalan yang integral dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Oleh lantaran itu, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tanggung tanggapan bersama antara personel sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, konselor, dan pengawas. Kegiatan bimbingan dan konseling mencakup beberapa aspek banyak spek dan saling kait mengkait, sehingga tidak memungkinkan jikalau layanan bimbingan dan konseling spesialuntuk menjadi tanggung tanggapan konselor saja.

Maka dari itu layanan bimbingan konseling dalam membentuk kepribadian siswa sangatlah penting untuk dikaji,semoga makalah ini bisa bermanfaa bagi tiruana khususnya bagi pemakalah

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah Pengertian Dan Tipe dari Kepribadian?

2. Apakah Peranan Bimbingan Konseling Terhadap Kepribadian Siswa?

3. Bagaimanakah Tugas Seorang Konselor dalam Pembentukan Kepribadian Siswa ?

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian dan Tipe Kepribadian

Atkinson (1996) dalam bukunya Pengantar Psikologi Jilid-2 mendefinisikan kepribadian sebagai contoh sikap dan cara berfikir yang khas, yang memilih adaptasi diri seseorang terhadap lingkungan. Istilah khas menyiratkan adanya konsistensi perilaku, bahwa orang cenderung untuk bertindak atau berfikir dengan cara tertentu dalam aneka macam situasi. Sementara itu berdasarkan Kelly (dalam Koeswara, 1991) kepribadian diartikan sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Menurut Wheeler (dalam Patty, 1982) kepribadian yaitu contoh khusus atau keseimbangan daripada reaksi-reaksi yang teratur yang menampakkan sifat khusus individu diantara individu-individu yang lain.Sedangkan berdasarkan Sigmund Freud sang pendiri aliran Psikoanalisa (dalam Koeswara, 1991) memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem, yakni id (dorongan, atau nafsu), Ego (diri) dan superego (nilai yang diintroyeksikan melalui pendidikan). Menurutnya tingkah laku, tidak lain ialah hasil dari konflik ketiga sistem kepribadian tersebut.

Menurut Hall (1998) kepribadian ialah hakekat keadaan manusiawi, yaitu bahwa kepribadian ialah penggalan dari individu yang paling mencerminkan atau mewakili pribadi, bukan spesialuntuk dalam arti bahwa ia membedakan individu tersebut dari orang lain, tetapi yang lebih penting, bahwa itulah ia yang sebenarnya.

Menurut Eysenck (1964) tipe kepribadian dibagi menjadi tiga, yaitu:

1) Kepribadian Ekstrovert :dicirikan dengan sifat sosiabilitas, berteman dekat, menikmati kegembiraan, aktif bicara, sangat senang spontan, ramah, sering ambil penggalan dalam acara sosial.

2) Kepribadian Introvert :dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri yang baik.

3) Neurosis : dicirikan dengan pencemas, pemurung, tegang, bahkan kadang kala disertai dengan simptom fisik menyerupai keringat, pucat, dan gugup.

2. Peranan Bimbingan Konseling Terhadap Kepribadian Siswa

Sebagian dari kita mungkin masih menyimpan tanda tanya Kenapa mengenal kepribadian siswa menjadi penting?. Baik, saya akan mencoba mengambarkan sebisa aku. Diantara kita mungkin pernah mengalami hal-hal sebagai diberikut:

a. Merasa kesal dengan siswa yang susah diatur.

b. Merasa kesal dengan siswa yang cerewet sedikit-sedikit bertanya, sedikit-sedikit bertanya.

c. Merasa kesal dengan siswa yang bersikap hambar pada kita.

d. Merasa kesal dengan siswa yang "bodoh" atau susah sekali memahami pelajaran yang kita diberikan.

e. Merasa kesal dengan siswa yang keras hati dan simpel emosi.

f. Merasa kesal dengan siswa yang bicaranya kasar.

g. Merasa kesal dengan siswa yang tidak bertanggung jawaban.

h. Merasa kesal dengan siswa yang spesialuntuk membisu saja dikelas, kalau tidak ditanya tidak bicara.

i. Merasa kesal dengan siswa yang simpel tersinggun.

j. Merasa kesal dengan siswa yang lamban dalam mengerjakan tugas

Bimbingan dan konseling pengembangan seluruh aspek kepribadian siswa, pencegahan terhadap timbulnya duduk kasus yang akan menghambat perkembangannya, dan menuntaskan masalah-masalah yang dihadapinya, baik kini maupun masa yang akan dating. Sehubungan dengan sasaran populasi layanan bimbingan dan konseling, layanan ini tidak terbatas pada individu yang bermasalah saja, tetapi mencakup seluruh siswa. (Nurihsan, 2006: 42)

Sejalan dengan visi tersebut, maka misi bimbingan dan konseling harus memmenolong megampangkan siswa berbagi seluruh aspek kepribadiannya seoptimal mungkin, sehingga terwujud siswa yang tangguh menghadapi masa kini dan masa menhadir.

Layanan bimbingan dan konseling ialah penggalan yang integral dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Oleh lantaran itu, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tanggung tanggapan bersama antara personel sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, konselor, dan pengawas. Kegiatan bimbingan dan konseling mencakup beberapa aspek banyak spek dan saling kait mengkait, sehingga tidak memungkinkan jikalau layanan bimbingan dan konseling spesialuntuk menjadi tanggung tanggapan konselor saja. (Soetjipto, 2004: 99)

3. Tugas Seorang Konselor dalam Pembentukan Kepribadian Siswa

Asar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan aturan (perundang-undangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting yaitu menyangkut upaya memfasilitasi akseptor didik yang selanjutnya disebut konseli, biar bisa berbagi potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual).

Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan lantaran mereka masih kurang mempunyai pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam memilih arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. melaluiataubersamaini kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut.

Perkembangan konseli tidak lepas dari efek lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang menempel pada lingkungan yaitu perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan sanggup mempengaruhi gaya hidup (life style) masyarakat masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu susah diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesentidakboleh perkembangan sikap konseli, menyerupai terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesentidakboleh perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesentidakboleh tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri.

Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, menyerupai : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang cukup umur sangat mempengaruhi contoh sikap atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidah-kaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabu-sabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex).

Penampilan sikap remaja menyerupai di atas sangat tidak diharapkan, lantaran tidak sesuai dengan sosok pribadi insan Indonesia yang dicita-citakan, menyerupai tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) diberiman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) mempunyai pengetahuan dan keterampilan, (4) mempunyai kesehatan jasmani dan rohani, (5) mempunyai kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) mempunyai rasa tanggung tanggapan kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi tiruana tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara berkarakter ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut.

Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak dibutuhkan menyerupai disebutkan, yaitu berbagi potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini ialah wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta aneka macam faktor yang mempengaruhinya.

melaluiataubersamaini demikian, pendidikan yang berkarakter, efektif atau ideal yaitu yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang spesialuntuk melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, spesialuntuk akan menghasilkan konseli yang pandai dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang mempunyai kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian.

Pada dikala ini sudah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian kiprah perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud yaitu standar kompetensi kemandirian.

Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kerja sama antara konselor dengan para personal Sekolah lainnya (pimpinan Sekolah, guru-guru, dan staf administrasi), orang bau tanah konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para jago : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah secara keseluruhan dalam upaya memmenolong para konseli biar sanggup berbagi atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.

Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang mencakup aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual).

Namun pada kenyataannya dilapangan bimbingan dan konseling tidak sanggup berjalan terbaik hal ini disebabkan waktu tatap muka dengan siswa terbatas, cara-cara layanan yang konvensional, Guru BK spesialuntuk menunggu pasif, banyak siswa yang enggan mengutarakan permasalahan–permasalahan yang dihadapi. Hal ini dimungkinkan lantaran rasa kurang percaya diri, dan tidak ada motivasi dari guru BK. Untuk menjawaban permasalahan diatas kiranya perlu suatu desain layanan bimbingan yang inovatif dalam hal ini kami menunjukkan suatu layanan konseling dengan memakai semacam Computer Based Training (CBT), memanfaatkan Email dan Chatting.

Konselor sekolah yaitu konselor yang mempunyai tugas, tanggung jawaban, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan BK terhadap sejumlah akseptor didik. Pelayanan BK di sekolah ialah kegiatan untuk memmenolong siswa dalam upaya menemukan dirinya, adaptasi terhadap lingkungan serta sanggup merencanakan masa depannya. Prayitno (2004a:3) sebut bahwa pada hakikatnya pelaksanaan BK di sekolah untuk mencapai tri sukses, yaitu: sukses bidang akdemik, sukses dalam persiapan karir dan sukses dalam kekerabatan kemasyarakatan.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 menyatakan “konselor yaitu pendidik” dan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2005 mengemukakan “konselor yaitu pelaksana pelayanan konseling di sekolah”.

Dalam Pasal 39 Ayat 2 Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebut:

Pendidik ialah tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melaksanakan pembimbingan dan petes, serta melaksanakan penelitian dan dedikasi kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Berdasarkan uraian di atas sanggup dipahami bahwa seorang konselor juga ialah pendidik, yaitu tenaga profesional yang bertugas: (1) merencanakan dan menyelenggarakan proses pembelajaran, (2) menilai hasil pembelajaraan (3) melaksanakan pembimbingan dan petes. Arah pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran yang dimaksud adalah melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling yaitu aneka macam jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling dan aneka macam keterkaitannya serta penilaianya.

Semua pendidik, termasuk di dalamnya konselor, melaksanakan kegiatan pembelajaran, penilaian, pembimbingan dan petes dengan aneka macam muatan dalam ranah mencar ilmu kognitif, afektif, psikomotor, serta keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Bimbingan dan konseling pengembangan seluruh aspek kepribadian siswa, pencegahan terhadap timbulnya duduk kasus yang akan menghambat perkembangannya, dan menuntaskan masalah-masalah yang dihadapinya, baik kini maupun masa yang akan dating. Sehubungan dengan sasaran populasi layanan bimbingan dan konseling, layanan ini tidak terbatas pada individu yang bermasalah saja, tetapi mencakup seluruh siswa. (Nurihsan, 2006: 42)

Sejalan dengan visi tersebut, maka misi bimbingan dan konseling harus memmenolong megampangkan siswa berbagi seluruh aspek kepribadiannya seoptimal mungkin, sehingga terwujud siswa yang tangguh menghadapi masa kini dan masa menhadir.

Layanan bimbingan dan konseling ialah penggalan yang integral dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Oleh lantaran itu, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tanggung tanggapan bersama antara personel sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, konselor, dan pengawas. Kegiatan bimbingan dan konseling mencakup beberapa aspek banyak spek dan saling kait mengkait, sehingga tidak memungkinkan jikalau layanan bimbingan dan konseling spesialuntuk menjadi tanggung tanggapan konselor saja. (Soetjipto, 2004: 99

DAFTAR PUSTAKA

Dharmawan, A. 2004. Kepribadian siswa. Bandung: Binacipta.

Suwarsono, Alvin Y.S.O. 2005. Bimbingan konseling dalam pembentukan kepribadan siswa. Jakarta: LP3ES.

Tag : lainnya
0 Komentar untuk "Layanan Bimbingan Konseling Sebagai Pembentukan Kepribadian Siswa"

Back To Top