Histats

Filsafat Islam Ibnu Miskawaih 2

A. Penlampauan

Segala puji spesialuntuklah milik Allah Rabb semesta alam yang sudah mempersembahkan banyak sekali nikmatnya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Ushwah kita yakni Nabi Muhamad SAW. Beserta kaluarganya, shahabat dan ummatnya yang setia mengikuti jejak langkahnya hingga simpulan zaman.

Selanjutnya , ucapan alhamdulillah kembali kami haturkan kepada-NYA ,karena kami sanggup menuntaskan makalah ini untuk memenuhi kiprah makalah “FILSAFAT ISLAM” dengan keinginan sanggup bermanfaa bagi penulis dan juga pembaca sekaliaan.

Filsafat ialah salah satu ilmu yang cukup populer dan banyak dibicarakan hingga hari ini. Banyak bermunculan tokoh-tokoh filsafat tak terkecuali tokoh filsafat Islam, salah satunya yaitu Ibnu miskawaih. Dalam makalah ini akan dipaparkan tentang beliau, biografi, pemikiran filsafatnya dan korelasi dengan para filsafat lainnya.

B. Biografi

Ibnu Miskawaih yaitu filsuf muslim yang hidup antara tahun 330-421 H/940-1030 M. Ia menyandang nama lengkap Abu Ali Ahmad Ibnu Miskawaih.[1] Beliau lahir di Raiy, salah atu kota yang dalam kurun sekitar hidupnya sangat populer di Persi, yaitu Teheran kini ini.

Mengenai kemajusiannya sebelum Islam banyak dipersoalkan, Jurzi Zaidan contohnya beropini bahwa ia yaitu majusi, kemudian memeluk Islam. Sedangkan Yaqut da pengarang Dairah al-Ma’arif al-Islamiyah kurang oke dengan pendapat itu. Menurut mereka, neneknyalah yang Majusi kemudia memeluk Islam. Artinya Ibnu Miskawaih sendiri lahir dalam keluarga Islam, sebagai terlihat dari nama bapaknya, Muhamad.[2]

Mengenai pendidikannya, dianggap berpengaruh Ibnu miskawaih tidak menerima pelajaran privat (menhadirkan guru ke rumah) sebagaimana kebiasaan belum dewasa pada masanya, lantaran ekonomi keluarganay yang kurang bisa untuk menhadirkan guru, terutama untuk pelajaran lanjutan yang biayanya mahal. Perkembangan ilmu Miskawaih terutama sekali diperoleh dengan jalan banyak membaca buku. Terutama disaat memperoleh kepercayaan menguasai perpustakaan Ibnu Al-‘Amid, menteri Rukih Ad-Daulah. Juga hasilnya memperolllleh keperacayaan sebagai bendaharawan ‘Adhud Ad-Daulah.[3]

Beliau mengais Ilmu di Baghdad dan meninggal di Isfahan. Sesudah menjelajahi banyak sekali ilmu pengetahuan Ia hasilnya memusatkan diri dalam kajian sejarah dan Etika. Gurunya dalam lapangan sejarah yaitu Abu Bakr Ahmad Ibnu Kamil Al-Qadhi dan Ibu Al-Khammar daam lapangan Filsafat.[4]

Menurut Otto Horrassowitz, Ibnu Miskawaih termasuk tokoh Filosof kurun klasik, yang dari Ibnu Miskawaih dijumpai pemikiran Filsafat tentang moral, pengobatan Rohani dan filsafat sejarah.[5]

Beliau bakerja selama puluhan tahun sebagai pustakawan pada sejumlah Wazir dan Amir Bani Buwaih, yakni Wazir Hasan Al-Mahlabi di Baghdad (348-352 H), Wazir Abu Al-Fadhl Muhamad Ibu Al-Amid di Raiy (325-360) dan sejumlah amir lainnya.

C. Karya-karya Ibnu Miskawaih

Ibnu Miskawaih ialah seorang pujangga yang mempunyai keahlian dalam majemuk ilmu, terutama ilimu sejarah, ilmu tabib dan ilmu dalam kebudayaa Islam pada jamannya. Dan oleh lantaran itu beberapa buah diantaranya hingga kini masih menjadi materi penyelidikan dan sudah banyak diterjemahkan orang dalam beberapa bahasa Eropa dan Asia. [6]

Keseluruhan karyanya berjumlah 18 buah yang sebagian besar mengkaji problem jiwa dan Etika. Diantara karyanya antara lain:

1) Al-Fauz Al-Ashghar (Tentang keberhasilan)

2) Tajarib Al-Umam (Tentang pengalamn bangsa-bangsa)

3) Tahdzib Al-Akhlaq (Tentang pendidikan Akhlak)

4) Al-Ajwibah wa Al-Asilah fi al-Nafs wa al-‘Aql (Tanya tanggapan tentang jiwa dan akal)

5) Al-Jawab fi al-Masil al-Tsalats (Jawaban tentang tiga masalah)

6) Thaharah al-Nafs (kesucian jiwa)

7) Risalah fi al-Ladzdzah wa al-Alam fi Jauhar al-Nafs (Tentang kesenangan dan kesedihan jiwa) dan

8) Risalah fi Haqiqah al-‘Aql (Tentang hakikat akal)[7]

9) Al-Fauz al-Akbar

10) Uns al-Farid (koleksi guakdot, syai’ir, pribahasa, dan kata-kata hikmah)

11) Tartib al-Sa’adah (perihal etika dan politik

12) Al-Mustaufa (sya’ir-sya’ir pilihan)

13) Jawidan Khirad (koleksi ungkapan bijak)

14) Al-Jami’

15) Al-Siyar (perihal tingkah laris kehidupan)

16) On the simple Drugs (perihal kedokteran)

17) On the composition of the Bajat (seni memasak)

18) Kitab al-Asyribah (perihal minuman)[8]

D. Filsafat Ibnu Miskawaih

a. Metafisika

Beliau tidak memdiberi perhatian besar terhadap problem ketuhanan, lantaran pada masanya tidak banyak lagi diperbincangkan lagi problem tersebut. melaluiataubersamaini demikian pemikirannya tidak tidak banyak tidak sama dengan Filsuf sebelumnya, terutama Al-Farabi dan Al-Kindi. Hal ini tampak bahwa Tuhan berdasarkan Ibnu Miskawaih yaitu zat yan tidak berjisim, azali dan pencipta. Tuhan Esa dalam segala aspek ,Tuhan tidak terbagi-bagi lantaran tidak mengandung kejamakan dan tidak satupun yang setara denganNya. Tuhan ada tanpa diadakan, dan ada-Nya tidak tergantung pada yang lain, sedangkan yang lain membutuhkanNya.[9]

Tuhan menurutnya yaitu penggagas utama yang tidak bergerak dan pencipta yang tidak berubah-ubah. Ia bersifat awet dan non materi, serta tidak sama dengan entitas apapun yang tunduk terhadap aturan perubahan. Karena itu Tuhan yang secara mutlak bebas dari materi, secara mutlak tidak berubah dan kebebasa Tuhan dari materilah yang membuat kita mustahil menggambarkannya dengan istilah apapun. Tetapi berdasarkan beliau, keharusan untuk menganggap kesempurnaan tertinggi berasal dariNya, maka kita harus dibimbing dalam problem ini oleh keentuan kitab suci.

Dalam problem penciptaan, Ibni MIiskawaih menyajikan teori Emanasi Neo-Platonisme sebagaimana halnya Al-Farabi. Tetapi dalam perumusan tahapan-tahapan emanasi dimaksud, antara keduanya terdapat perbedaan:

Menurut Ibnu miskawaih, entitas pertama yang memancar dari Tuhan yaitu ‘Aql Fa’al (akal aktif). Akal aktif ini tanpa mediator sesuatu pun. Ia abadi, tepat dan tak berubah. Pancaran yang terus menerus dari Tuhan sanggup memelihara tatanan di alam ini, sekiranya pancaran Tuhan dimaksud terhenti, maka berakhirlah kemaujudan dan kehidupan di alam ini.[10]

Berdasarkan pendapat dia diatas, maka sanggup ditarik perbedaan pendapatnya dengan Al-Farabi sebagai diberikut:

1) Bagi Ibnu Miskawaih, Tuhan menyebabkan alam ini secara emanasi dari tiada menjadi ada. Sedangkan berdasarkan Al-Farabi, alam dijadikan Tuhan secara pancaran dari sesuatu atau materi yang sudah ada menjadi ada.

2) Bagi Ibnu Miskawaih, ciptaan dewa yang pertama yaitu logika aktif. Sedangkan bagi Al-Farabi ciptaan Tuhan yang pertama yaitu Akal 1, dan Akal aktif yaitu logika yang kesepuluh.

Jika ditilik pemikiran Ibn Miskawaih ini, spesialuntuk dalam problem pokok bersesuaian dengan Al-Farabi. Dalam pendekatan problem terlihat lebih erat dengan Al-Kindi atau mutakallimin.

b. Evolusi

Seperti Ikhwan Al-Safa, Ibnu Miskawaih menganut faham Evolusi. Bila dalam faham IKhwan Al-Safa dikatakan bahwa yang lebih lampau muncul dibumi ini yaitu alam mineral, kemudian gres tumbuhan, kemudian binatang, dan kemudian gres manusia. melaluiataubersamaini penjalaasn bahwa pada puncak perkembangan ala hewan terdapat monyet yang banyak persamaannya dengan dalam betuk dan kelakuan. Maka Ibnu Miskawaih juga mengajukan prinsip yang sama. Evolusi manurutnya berlangsung dari alam mineral ke ala tumbuh-tumbuhan, selamjutmua ke alam binatang, seterusnya ke alam manusia. Transisi dari alam mineral ke alam tumbuhan terjadi melalui merjan (kerang), dari alam tumbuhan kea lam hewan melalui pohon kurma dan dari alam hewan ke alam insan melalui kera.[11]

c. Kenabian

Dalam problem kenabian sepertinya tak ada perbedaan pendapat antara Ibu miskawaih dan Al-Farabi dalam memperkecil perbedaan Nabi dengan Filsuf. Menurut Ibnu Miskawaih, Nabi yaitu insan pilihan yang memperoleh hakikat-hakikat kebenaran, lantaran dampak logika aktif atas daya imajenasinya. Hakikat yang sama juga diperoleh Filsuf. Perbedaannya terletak pada cara memperolehnya. Para Filsuf memperoleh kebenaran dari bawah ke atas, yaitu dari daya indrawi naik ke daya khayal, dan naik lagi ke daya piker sehingga sanggup berafiliasi da menangkap hakikat-hakikat kebenaran dari logika aktif. Sedangkan para Nabi memperoleh eksklusif dari logika aktif sebagai rahmatTuhan.[12] Kaprikornus menurutnya, sumber kebenaran yang diperoleh oleh Nabi dan filsuf yaitu sama, yaitu logika aktif.

Pemikiran ini sejalan dengan Al-Farabi. Oleh lantaran kebenaran itu satu, baik yang pada Nabi maupun yang ada pada Filsuf, maka yang paling pertama mendapatkan dan mengakui apa yang dibawa Nabi yaitu Filsuf.

d. Moral

Menurut beliau, moral atau etika yaitu suatu perilaku mental (halun li al-Nafs) yang mengandung daya dorong untuk berbuat tanpa berfikir dan pertimbangan. Sikap mental ini terbagi dua; ada yang berasal dari watak dan ada yang berasal dari kebiasaan dan tes.[13]

Akhlak terpuji sebagai manisfestasi dari watak tidak benyak dijumpai, yang terbanyak yaitu mereka yang mempunyai sifat-sifat kurang terpuji lantaran watak. Karena itu, berdasarkan dia kebiasaan atau tes-tes dan pendidikan sanggup memmenolong seseorang untuk mempunyai sifat-sifat terpuji tersebut, sebaliknya juga akan membawa orang kepada sifat tercela.

Ibnu Miskawaih menolak pendapat yang menyampaikan etika yang berasal dari watak mustahil berubah. Oleh dia ditegaskan kemungkinan perubahan etika itu terutama melalui pendidikan.

Pemikiran menyerupai ini sejalan dengan pemikiran Islam, Al-Qur’an dan Hadits sendiri menyatakan secara gamblang bahwa kehadiran Rasulullah SAW yaitu untuk menyempurnakan akhlak. hal ini terlihat dari salah satu tujuan ibadah yaitu pembentukan etika yang pada gilirannya akan memperbaiki tingkah laris mayarakat.

Adapun jiwa berdasarkan Ibnu Miskawaih yaitu jauhar rohani yang abadi, tidak hancur dengan lantaran janjkematian jasad. Menurutnya, kebahagian dan kesengsaraan diakhirat nanti spesialuntuk dialami oleh jiwa saja, lantaran kelezatan jasmani bukanah kelezatan hakiki.

Kemudian problem pokok yang dibicarakan dalam kajiannya tentang etika yaitu kebaikan (al-Khair), kebahagiaan (al-Sa’adah) dan keutamaan (al-Fadhilah). Menurut beliau, kebaikan yaitu suatu keadaan diaman kita hingga pada batas simpulan dan kesempurnaan wujud. Kebaikan adakalanya umum dan khkusus. Kebaikan umum yaitu kebaikan bagi seluruh insan dalam kedudukannya sebagai manusia. Sedangkan kebaikan khusus yaitu kebaiakan bagi seseorang secara pribadi. Yang terakhir inilah yang dinamakan kebahagiaan. Kaprikornus berdasarkan beliau, kebaikan dan kebahagiaan sanggup dibedakan. Kebaikan mempunyai identitas tertentu yang berlaku umum bagi manusia, sedangkan kebahagiaan tidak sama-beda bergantung pada orang-orang yang berusaha memperolehnya.

Kebahagiaan banyak dibicarakan pemikir Yunani dalam dua versi, yaitu pandangan pertama diwakili oleh Plato yang beropini bahwa spesialuntuk jiwalah yang sanggup memperoleh kebahagiaan. Sehingga selama jiwa msih terkait dengan badan, maka selama itu pula insan tidak akan menerima kebahagiaan. Sedangkan kedua diwakili oleh Aristoteles yang berpandangan bahwa kebahagiaan itu sanggup dinikmati oleh insan di dunia, kendatipun jiwanya masih terkait dengan badan. Hanya saja tidak sama berdasarkan masing-masing manusianya.

Ibnu Miskawaih tampil diantara kedua pendapat itu. Menurutnya, lantaran insan mempunyai dua unsur yaitu jiwa dan badan, maka kebahagiaan itu mencakup keduanya. Ada insan yang senang lantaran terikat dengan hal yang bersifat benda, namun ia rindu terhadap kebahgiaa jiwa dan terus berusaha mendapatkannya. Ada pula menusia yang menerima kebahagian melalui jiwa dan melepas kebendaan.

Kebahagiaan yang bersifat benda berdasarkan Ibu miskawaih mengandung kepedihan dan penyesalan serta menghabat perkembangan jiwanya menuju kehadirat Allah. Kebahagian jiwalah yang ialah kebahagian yang paling sempurna, dan bisa mengantar insan yang memiliinya kederajat malaikat.[14]

e. Prinsip sejarah

Ibu miskawaih menghendaki semoga sejarah ditulis dengan perilaku kritis dan filosofis. Sejarah menurutnya bukanlah kisah hiburan tentang pribadi raja, melainka harus mencerminkan struktur politik, ekonomi, dan social pada masa-masa tertentu juga harus merekam naik turunnya peradaban, bangsa, dan negara. Menurutnya, sejarahwan harus menjauhi kecenderungan mencampuradukkan fakta dan fiksi . sejarahwan tidak saja tekun mencari fakta, tetapi juga harus kritis dalam pengumpulan data. Selain itu, sejarah juga tidak cukup disajikan melalui data-data, tetapi juga disertai pula tinjauan filosifis, yaitu menafsirkan dalam bingkai kekerabatan kuasa yang sarat kepentingan.[15]

E. Kesimpulan

Ibnu Miskawaih ialah tokoh filsafat Islam yang cukup terkenal. Keilmuan dia sebagian besar di peroleh secara otodidak. Mengenai Kemajusian dan Faham syi’ahnya masih dibicarakan banyak kalangan.

Dalam hal pemikirannya, Ibnu miskawaih banyak dipengaruhi oleh filsafat Yunani. Banyak pemikiranya yang tidak sesuai dengan Islam, diantaranya pemikiran dia tentang Evolusi, menyamakan Nabi dengan para filsuf, kehidupan setelah janjkematian yang spesialuntuk di alami jiwa saja dan banyak lagi pemikiran lainnya. Namun tentu ada pula yang sejalan dengan Islam, diantaranya dalam konsep ketuhanan dan moral atau akhlak, dia beropini bahwa watak insan sanggup dirubah diantarnya malalui pendidikan dan tes-tes. Ini sesuai dengan tujuan di utusnya Rasulullah SAW, yakni untuk menyempurnakan akhlak. Wa Allahu ‘alam.

F. Penutup

Cukup sekian apa yang sanggup kami paparkan dalam makalah ini, tentu saja belum sempurnanya disana sini masih mungkin dijumpai dalam makalah ini, Koreksi dan masukan dari tiruana pihak sangat kami harapkan terutama kepada bapak dosen pengampuh mata kulih “FILSAFAT ISLAM” dengan keinginan makalah ini sanggup menjadi lebih baik di kemudian hari

Tiada kata yang patut kami haturkan melainkan rasa terima kasih dan ucapan minta maaf kepada para pembaca sekalian, lantaran dalam makalah ini mungkin terdapat banyak kesalahan, simpulan kata ihdinashshirotolmustaqim jazakumullah akhsanal jaza’

G. Daftar Pustaka

Aceh Abu Bakar, sejarah filsafat Isalm, Sala:C.V.Ramdhani, Cet. 2 th 1982

Dahlan Abdul Aziz , pemikiran filsafat dalam Islam, Jakarta: Djambatan, Cet, 1 th 2003

Drajat Amroeni, Filsafat Islam buat yang pengen tahu, Jakarta:Penerbit Erlangga, cet. I th 2006

Mustofa, Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia, Cet. 2 th 2004

Nasution Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta:Gaya media pratama, Cet, 3 th 2002

Tag : lainnya
0 Komentar untuk "Filsafat Islam Ibnu Miskawaih 2"

Back To Top