BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Psikologi Dakwah ialah ilmu yang mengkaji ihwal gejala-gejala yang bekerjasama dengan Interaksi sosial kemasyarakatan antara da’i dan mad’u oleh lantaran itu dalam diri insan selalu terdapat beberapa elemen yang layak untuk kita ketahui bersama, guna mempergampang Kita sebagai makhluk sosial dalam bermasyarakat, Oleh lantaran penting sekali mengkaji ihwal unsur-unsur yang ada dalam diri manusia.
Dalam pembahasan kali ini akan dikupas problem peranan motif sebagai pendekatan sosial masyarakat mengingat posisi motif dalam Interaksi sosial berada di garda depan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dan teori-teori motivasi?
2. Bagaimana penjabaran Motif?
3. Bagaimana peranan motivasi sebagai pendekatan sosial?
BAB II
PEMBAHASAN
A. MOTIVASI DAN TEORI-TEORINYA
Secara etimologi motif ata motive berasal dari kata motion yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Sedangkan secara terminologi banyak dari beberap mahir psikologi yang mendefinisikannya. Sherif menyebut motif sebagai suatu istilah generik yang mencakup sema faktor internal yang mengarah pada aneka macam jenis sikap yangbertuan pada imbas internal. Sedangkan Giddens mendefinisikan motif sebagai dorongan yang mempersembahkan energi pada insan sepanjang lintasan sikap ke arah pemuasan kebutuahan. Dari sini penulis sanggup menyimpulkan bahwa dalam perspektif psikologi motif ialah rangsangan atau dorongan yang sanggup membangkitkan tenaga insan atas terjadinya perilaku.
Istilah motif mengacu pada lantaran atau mengapa seseorang berperilaku. Dari kata motif ini terbentuk kata motifasi. Menurut Sartain dalam Psychology understanding of human behaviour ibarat yang dikutip oleh Ngalim Purwanto membuktikan bahwa makna Motivasi ialah suatu pernyataan yang komplek di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laris ke suatu tujuan atau perangsang.[1]
Para mahir psikologi menempatkan motivasi pada posisi penentu bagi aktivitas hidup individu dalam usaspesialuntuk mencapai tujuan. Motif ialah impulse atau dorongan yang memdiberi energi pada tindakan insan sepanjang lintasan kognitif atau sikap ke arah pemuasan kebutuhan. Motif bukan spesialuntuk ialah suatu keadaan perasaan. Motif bukan spesialuntuk ialah suatu dorongan fisik, tetapi juga ialah orientai kognitif, elementer yang diarahkan pada pemuasan kebutuhan.[2] Oleh lantaran itu motifasi dipandang sangat penting dalam kehidupan manusia. Adapun para psikolog mempersembahkan pengertian dan teori-teori sebagai diberikut:
1. Sigmund Freud beropini bahwa dasar dari motivasi tingkah laris insan ialah insting (naluri).
2. Abraham Maslaw beropini bahwa insan dimotivasi oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah dan bersal dari sumber genesis atau naluriah.
3. K. S.Lashlay berpendapat bahwa motivasi dikendalikan oleh respon-respon susunan syaraf sentral ke arah rangsangan dari dalam dan dari luar yang fariasinya sangat kompleks, termasuk perubahan kompoisi kimiawi dan aliran darah.
4. Fillmore H.Sanford berpendapat bahwa motivasi itu motion yang berarti gerakan. Oleh lantaran itu Ia mengartikan motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakkan suatu organisme dan mengarahkannya kepada suatu tujuan.
5. Floyd L. Ruch berpendapat bahwa motivasi insan sangat kompleks dan sanggup mempengaruhi insan dalam tiga cara:
a. Motif memungkinkan contoh rangsang dari luar diri manusia mengalahkan rangsangan lain yang menyainginya
b. Motif sanggup membuat seseorang terikat dalam satu aktivitas tertentu ehingga ia sanggup menemukan objek atau situasi khusus diluar dirinya.
c. Motif sanggup menyebabkan kekuatan untuk melaksanakan pekerjaan yang lebih berat.[3]
B. KLASIFIKASI MOTIF
Penggolongan motif dalam diri insan berdasarkan Ahli Psikologi :
1. Sartain, membagi motif menjadi 2 golongan:
a. Physiological Drive : Dorongan yang bersifat fisiologis. Jika kebutuhan dorongan terpenuhi maka seseorang menjadi tenang. misal; rasa lapar, haus, lelah dll.
b. Social Motives : Dorongan-dorongan yang ada hubungannya dengan insan lain dalam masyarakat ibarat dorongan estetis, dorongan ingin selalu berbuat baik (etika)[4]
2. Woodworth, membagi motif menjadi 2 golongan:
a. Unlearned Motives : Motif yang timbul disebabkan oleh belum sempurnanya-belum sempurnanya atau kebutuhan-kebutuhan dalam tubuh.
b. Learned Motives: ialah aspek-aspek yang disadari mencakup motif-motif untuk mendekatkan diri dan menjauhkan diri dari sesuatu.
C. PERANAN MOTIVASI SEBAGAI PENDEKATAN SOSIOLOGI
Motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu menggerakkan, mengarahkan, dan menopang tingkah laris manusia. Tujuan motivasi secara umum ialah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang semoga timbul harapan dan kemauan untuk melaksanakan sesuatu sehingga sanggup memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu.
Tujuan motivasi bagi seorang da’i ialah menggerakkan atau memacu objek dakwah (mad’u) semoga timbul kesadaran yang membawa perubahan tingkah laris sehingga tujuan dakwah sanggup tercapai. Dalam proses dakwah di harapkan seorang da’i mamppu menggerakkan atau menyebabkan kekuatan dalam diri mad’u dan memimpin mad’u untuk bertindak sesuai denan ajaran-ajaran agama yang disampaikan. Selanjutnya seorang da’i dituntut untuk mengarahkan tingkah laris mad’u dengan membuat lingkungan yang sanggup menguatkan dorongan-dorongan tersebut. Sehingga motivasi mempunyai peranan penting sebagai pendekatan sosiologi.
Sigmund Freud membagi insting insan menjadi dua, yaitu: insting untuk hidup dan insting untuk mati, maka dalam Islam dikenal juga potensi positif dan negatif yang dimiliki insan yang teraktualiasi dalam sikap insan sehari-hari. Freud memandang aksi (perilaku merusak atau melukai) sebagai insting dasar. Insting untuk mati (energi naluri kematian) terbentuk dalam diri insan hingga suatu dikala dilepas keluar dalam bentuk nyata atau ke dalam bentuk sikap merusak diri. Bilamana seseorang tidak sanggup berbuat berdasarkan atas dorongan insting yang bersifat merusak, maka hal itu disebabkan oleh norma-norma masyarakat yang tidak mengizinkan. Oleh lantaran itu dorongan-dorongan naluriah insan itu harus dikontrol dengan kekuatan-kekuatan lain diluar diri insan sepertikekuatan sosial ataupun agama dalammasyarakat dimana kekuatannya sanggup mengarahkan tingkah laris insan sebagian anggota masyarakat. Melalui aktivitas dakwah sesorang Da’i sanggup menekan naluri destruktif mad’u dengan terus mempersembahkan motifasi-motifasi semoga mad’u sanggup membuatkan nalri konstruktif yang Ia miliki.
Berdasarkan teori kebutuhan Abraham Maslaw, insan mempunyai kebutuhan yang menjadi dasar dari motifasi tingkah lakunya. Kebutuhan yang paling mendesakakan mendominasi tingkah laris seseorang untuk mencapainya dan perhatiannya kepada kebutuhan yang lain akan terabaikan. Karena itu dalam proses aktivitas dakwah pemenuhan akan kebutuhan-kebutuhan insan mutlak diperhatikan, lantaran tanpa menghampiri motif-motif pokok manusia, pesan-pesan dakwah tidak mungkin sanggup mempengaruhi sikap objek dakwah (Mad’u) sebagaimana yang diharapkan.
Penting bagi seorang da’i mengetahui motif-motif mendesak dari samasukan dakwahnya semoga seorang Da’i bisa menyesuaikan materi dakwah, metode dakwah atau taktik dakwah yang tepat semoga tujuan dakwah sanggup tercapai.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Tujuan motivasi bagi seorang da’i ialah menggerakkan atau memacu objek dakwah (mad’u) semoga timbul kesadaran yang membawa perubahan tingkah laris sehingga tujuan dakwah sanggup tercapai. Dalam proses dakwah di harapkan seorang da’i mamppu menggerakkan atau menyebabkan kekuatan dalam diri mad’u dan memimpin mad’u untuk bertindak sesuai denan ajaran-ajaran agama yang disampaikan. Selanjutnya seorang da’i dituntut untuk mengarahkan tingkah laris mad’u dengan membuat lingkungan yang sanggup menguatkan dorongan-dorongan tersebut. Sehingga motivasi mempunyai peranan penting sebagai pendekatan sosiologi.
Penting bagi seorang da’i mengetahui motif-motif mendesak dari samasukan dakwahnya semoga seorang Da’i bisa menyesuaikan materi dakwah, metode dakwah atau taktik dakwah yang tepat semoga tujuan dakwah sanggup tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Faizah dan Lalu Mukhsin Effendi.2006. Psikologi Dakwah. Jakarta: Kencana.
Ahmad Mubarok.2002. Psikologi Dakwah. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Arifin, M.2000. Psikologi Dakwah(Suatu Pengantar Study). Jakarta: Bumi Aksara.
0 Komentar untuk "Psikologi Dakwah"